Mengapa,…
Aku tak mau aku terus terjerumus hingga ke dasar hatimu,
sekarang cukup kurasakan kusapa engkau dari jauh,
mungkin lebih baik, walau sapaku tak terbalas tantunya.
Tapi masih akan kuingat lewat kenangan ini,
saat kamu tersenyum,
saat tertawa,
saat diam membisu seperti batu,
saat suka dan dukamu semuanya,
mungkin itu sebagai wakil balasanmu untuk balik menyapaku.
Kenangan,
selalu akan kita ingat, dan tak mungkin kita bisa melupakannya,
hanya yang munafik yang mengatakan bisa.
Tapi bukan kita harus hidup dalam kenangan itu,
melainkan kita belajar hidup dari kenangan itu.
Sakit memang..
tapi bukankah kita tak akan merasakan senang kalau kita tak pernah susah,…
Bukan berusaha kita melupakan,
karena semakin berusaha untuk melupakan semakin kita akan mengingatnya.
Hari ini aku mungkin sakit,
tapi aku yakin suatu saat nanti aku pasti sembuh,
walau kapan akupun tak tahu,
hanya waktu yang akan menjawabnya…
Memang baiknya aku hadapi,
bukan aku sesali yang terjadi,
agar suatu saat nanti aku tidak mengatakan andai aku bisa mengembalikan waktu…
karena itu tak mungkin tentunya,
dan akan lebih sakit…
hari ini adalah hari ini,
esok pasti akan lebih baik,
Terlalu banyak waktumu terbuang,
jika tak bisa memang tak usah kita paksakan, lebih bijak jika katakan yang ada,
yang terasa,
jika sekarang takut membuat kecewa atau sakit,
kitapun tak bisa menjamin jika esok atau lusa tidak akan sakit atau kecewa,
jika jawabnya sama,
seperti yang kemarin.
Cukup sudah aku juga tak mau menjadi percobaan perasaanmu, akupun tak ingin kamu menghiburku,
atau belas kasihan.
Aku hanya mengatakan,
yang aku merasa perlu karena aku tak mau munafik,
atau menyesal suatu saat nanti,
memang menyakitkan mengatakan cinta jika tak berbalas,
tapi yang paling menyakitkan adalah jika saya cinta dan tak pernah mampu mengatakanya…
Aku tetap mengenalmu sampai saat ini, hanya saja aku tak mau jadi beban aku takut maafmu tak mampu menutupi kesalahanku, aku tak mau…